Hadits Keutamaan Memahami Ilmu Agama
Hadits Keutamaan Memahami Ilmu Agama adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 2 Jumadil Awal 1448 H / 13 Oktober 2026 M.
Kajian Hadtis Tentang Keutamaan Memahami Ilmu Agama
Bagian pertama diawali dengan anjuran untuk semangat dalam menuntut, mempelajari, dan mengajarkan ilmu. Selain itu, dibahas pula sejumlah hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan para ulama serta penuntut ilmu.
Hadits pertama yang dibawakan oleh Imam Al-Mundziri rahimahullah adalah hadits dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)
Maksud dari kata al-fiqh (yufaqqihhu fid-din) secara bahasa adalah al-fahmu (pemahaman). Sebagai contoh, bentuk kata فَقِهَ – يَفْقَهُ – فِقْهًا merujuk pada seseorang yang memahami sesuatu, yaitu ia paham dan mengetahui.
Adapun bentuk فَقُهَ – يَفْقُهُ (dengan membaca dhammah pada huruf qaf) maknanya adalah seseorang telah menjadi ahli fiqih dan berilmu.
Secara umum, ilmu fiqih yang dikenal oleh kaum muslimin adalah ilmu tentang syariat-syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lebih khusus lagi, fiqih berkaitan dengan furu’ul masail (masalah-masalah cabang) yang bersumber dari masalah-masalah pokok. Penjelasan ini sebagaimana disebutkan oleh seorang alim, yaitu Abu Al-Sa’ad.
Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa keinginan seseorang untuk menuntut ilmu dan memahami agama merupakan pertanda baik bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan baginya.
Kondisi manusia dalam hal ini bermacam-macam. Ada orang yang merasa bodoh terhadap ilmu agama, lalu bersikap pasrah dengan menganggap cukup hanya dengan berstatus muslim, melaksanakan shalat, dan berpuasa tanpa ada keinginan untuk mempelajari agama lebih dalam. Di sisi lain, ada pula orang yang memiliki semangat tinggi untuk memahami masalah-masalah agama.
Ketika seseorang memiliki kemauan dan keinginan untuk memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal tersebut menjadi pertanda kebaikan baginya. Tidak ada orang yang lahir dan tumbuh lalu langsung memahami agama tanpa ada upaya untuk mempelajarinya. Dalam semua ilmu, seseorang menjadi pakar dalam suatu bidang, baik ilmu agama maupun ilmu umum, melalui proses. Proses tersebut adalah belajar dan menuntut ilmu.
Proses ini dijalankan dengan kemauan yang keras serta niat yang ikhlas, sehingga seseorang akan diberikan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pelajaran-pelajaran yang dapat diambil dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu antara lain:
Memahami agama dengan ikhlas merupakan tanda kebaikan. Ketika seseorang berupaya belajar untuk memahami agama dengan niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, hal tersebut merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki bagi hamba tersebut.
Anjuran menuntut ilmu syar’i secara ikhlas. Terdapat perintah dan anjuran untuk menuntut ilmu syar’i dengan penuh keikhlasan karena Allah ‘Azza wa Jalla. Keikhlasan sangat penting dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah yang utama. Oleh karena itu, menuntut ilmu tidak boleh digampangkan. Niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan banyak kebaikan, pahala, dan ganjaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Keutamaan ilmu dan pemahaman agama. Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang memahami serta mendalami ilmu agama. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ
“Menuntut ilmu adalah amal yang paling afdhal bagi orang yang benar niatnya.”
Mengenai cara meluruskan niat, Imam Ahmad rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang berniat dengan belajar untuk menjadi pribadi yang tawadhu (rendah hati) serta berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya.
Penjelasan Imam Ahmad rahimahullah ini menegaskan bahwa saat belajar, seseorang berniat agar menjadi orang yang tawadhu. Sebab, ada orang yang ketika sudah belajar justru bersikap sombong, angkuh, dan merasa diri lebih dari yang lain, yang mana merupakan sifat-sifat tercela. Para ulama salaf dan ulama sesudahnya merupakan teladan yang sangat tawadhu dan rendah hati atas ilmu yang ada pada mereka.
Nikmat ilmu yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala harus disikapi dengan bersyukur dan bersikap rendah hati, tanpa rasa sombong maupun angkuh.
Demikian pelajaran-pelajaran penting dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu: barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki kebaikan baginya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memahamkan dia dalam agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggerakkan hatinya untuk belajar menuntut ilmu agama, kemudian memberikan taufik padanya untuk mengamalkan ilmu tersebut.
Keutamaan Membantu Sesama, Menutup Aib, dan Memudahkan Urusan
Hadits berikutnya dibawakan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa yang memberikan jalan keluar dari kesulitan kepada seorang mukmin dari kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesulitannya dari kesulitan-kesulitan hari kiamat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Hari kiamat merupakan hari yang dahsyat dan menakutkan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk takut pada hari kiamat:
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan takutlah pada hari yang (pada hari itu) kamu dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap jiwa diberi balasan sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah[2]: 281)
Hari kiamat adalah hari kebangkitan manusia dalam keadaan yang sangat dahsyat dan menakutkan, kecuali bagi orang-orang yang diberikan keamanan oleh Allah Subhanahu wa Ta me: hamba-hamba yang diberikan keamanan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat kelak.
Lanjutan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa barang siapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Seorang mukmin senantiasa berupaya menutup aib orang lain karena menyadari bahwa dirinya pun memiliki aib dan kekurangan, baik dalam sifat maupun perbuatan.
Selain itu, barang siapa yang memberikan kemudahan kepada orang yang mengalami kesulitan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat. Istilah mu’sir umumnya merujuk pada orang yang berutang. Sebagai contoh, ketika seseorang berutang kepada orang lain, lalu ia mengalami kesulitan dan tidak mampu membayar pada waktu yang telah dijanjikan, maka memberi kemudahan kepadanya adalah hal yang dianjurkan.
Ketika seseorang belum mendapatkan dana atau uang untuk melunasi utangnya, ia mendatangi pihak yang memberikan pinjaman dan meminta maaf karena belum mampu membayar. Pihak pemberi pinjaman kemudian memberikan penundaan pembayaran hingga bulan depan. Sikap tersebut merupakan bentuk pemberian kelonggaran kepada orang yang berada dalam kesulitan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Dengan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan berbagai kemudahan kepada hamba tersebut di dunia dan di akhirat.
Selanjutnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Al-Qur’an dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan diliputi oleh para malaikat, akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi oleh rahmat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. Barang siapa yang diperlambat oleh amalnya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
Hadits ini merupakan hadits shahih yang mencakup banyak bimbingan serta arahan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umat ini.
Tiga poin pertama di dalam hadits tersebut menjelaskan hal-hal berikut:
Memberikan jalan keluar atas kesulitan orang lain. Barang siapa membebaskan atau memberikan jalan keluar kepada seorang muslim dari suatu kesulitan atau musibah di dunia, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar baginya dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat kelak.
Menutup aib seorang muslim. Seseorang yang mengetahui aib orang lain lalu menutupinya dan tidak menceritakannya kepada siapa pun, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.
Pemberian kemudahan bagi yang kesusahan. Barang siapa memberikan kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.
Tiga hal di atas menunjukkan kaidah al-jazau min jinsil-‘amal, yaitu balasan suatu perbuatan setimpal dengan jenis perbuatannya. Ketika seseorang memberikan jalan keluar atas kesulitan saudaranya di dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jalan keluar baginya di akhirat kelak. Begitu pula saat seseorang menjaga lisannya dari membuka aib orang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Demikian halnya dengan memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya dengan kemudahan di dunia dan di akhirat.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Keutamaan Memahami Ilmu Agama” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56623-hadits-keutamaan-memahami-ilmu-agama/